This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
13 April 2009
“HILANGNYA HAK PILIH RAKYAT ”
Ir. Riswan, MMSI
Pesta demokrasi pemilu legislatif 9 April 2009 baru saja berakhir, puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan YME pesta ini berjalan dengan damai dan tidak ada halangan yang cukup berarti, rakyat semangkin dewasa dalam berpolitik dan bijaksana dalam menyikapi persoalan hak pilih mereka yang tidak tercantum dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) pesta demokrasi 2009, diakui memang di beberapa TPS ada beberapa rakyat yang nama tidak tercantum dalam DPT legislatif 2009, sehingga mereka kehilangan hak untuk memilih pilihannya yang hanya muncul lima tahun sekali, mengapa ini bisa terjadi ?, pada hal pada pemilu 2004 dan pilwako Jambi 2009 yang lalu nama mereka tercantum pada DPT tersebut, persoalan ini harus disadari oleh penyelengara pemilu untuk pelaksanaan pilpres 2009 yang akan datang, apalah artinya kemenanga bila jumlahnya kecil dari pada jumlah rakyat yang tidak memilih pada pemilu tersebut, hanya dikarena nama mereka tidak tercantum pada DPT.
Mengapa persoalan DPT ini selalu muncul pada saat pilkada, pemilu legislatif dan pilpres, padahal kita bukan anak kecil lagi yang baru belajar dalam melaksanakan kegiatan besar tersebut, telah berulang kali kita melaksanakannya, bukan lagi sesuatu yang baru yang harus dibangun setiap pelaksanaan kegiatan tersebut, atau memang persoalan ini dikarenakan ampuradulnya penggolahan data kependudukan negeri ini, sehingga tidak dapat memberikan data yang valid untuk pelaksanaan pemilu, disisi lain bukankah beberapa provinsi telah menerapkan komputerisasi dalam hal penggolahan data kependudukannya, bila ini benar dilakukan dengan baik serta proses update datanya selalu dilakukan, maka itu akan dapat dijadikan sumber data otentik yang sangat dibutuhkan dalam setiap perhelatan diatas, komputer jangan hanya berfungsi sebagai entri data biasanya yang tidak ubahnya dengan proses manual, komputer harus berfungsi sebagai penggolahan data kependudukan yang berbasis database, nantinya dapat memberikan berbagai kebutuhan data bagi KPU atau instansi lain terhadap data lain seperti, bantuan sosial, raskin, BLT, Aseskin, dan lain sebagainya.
Kemunculan komputer pada awalnya adalah membantu proses kerja manusia, dalam hal keakuratan, kecepatan, dan lain sebagainya, untuk dapat melaksanakan itu semua, maka komputer dilengkapi dengan komponen hardware, software, dan brainware, ketiga komponen ini saling mendukung satu sama lainnya, bila salah satu dari komponen tersebut tidak ada, maka komputer tidak akan berfungsi dengan baik, sebagai contoh bila komponen brainware tidak ada yaitu komponen yang berhubungan dengan manusia sebagai otak atau pelaksana dari komputer tersebut maka sistem komputer tersebut tida akan berjalan dengan baik.
Komponen brainware sangat berhubungan erat dengan human error yaitu kesalahan manusia yang pada dasarnya memang sudah menjadi kondratnya manusia yang selalu berbuat kesalahan, faktor ini yang paling dominan terjadi, karena manusia mahkluk hidup yang memiliki beberapa kelemahan, memiliki rasa bosan, cepat letih, kurang teliti, dll, disamping kelemahan dari sisi keimanan, sehingga ia berani melakukan rekayasa terhadap data yang telah diproses dengan baik oleh komputer melalui proses program yang memiliki tingkat kevalidan yang dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan.
Sekiranya penggolahan data kependudukan tersebut selama ini telah di olah menggunakan komputerisasi yang berbasis database, maka seharusnya program kependudukan tersebut dapat mengantisipasi terjadi redudansi data (data berulang) pada data penduduk untuk DPT, programer bisa melakukan hal tersebut melalui proses klasifikasi terhadap data kependudukan yang ganda, yang bisa dilakukan melalui nomor induk kependudukan (NIK), atau usia dari penduduk, bahkan komputer dapat melakukan klasifikasi berdasarkan jenis kelamin, tempat tinggal, dan lain sebagainya sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan.
Untuk mendukung komputerisasi data kependudukan tersebut, peran dari ketua rukun tetangga (RT) sangatlah diperlukan, karena Ketua RT merupakan kepala pemerintah terkecil dalam pemerintahan yang besar, ia merupakan orang yang paling bertanggung jawab, dan mengetahui persoalan yang dihadapi warganya, namum sangat disayangkan peran ketua RT selama ini hanya menjadi pelengkap dari birokrasi negeri ini, antara ada dan tidak, dan yang paling irasional lagi, masyarakat yang akan mengurus KTP yang tidak memiliki surat pengantar dari RT pun, oleh pihak kecamatan masih bisa di proses (KTP), tentu dengan imbalan tertentu.
Peran ketua RT, seharusnya lebih diberdayakan dalam hal data kependudukan, sehingga warga yang mininggal, pindah domisili dapat diketahui sedini mungkin oleh pihak kecamatan sebagai bank data kecamatan, ini akan berdamfak terhadap kevalidan kependudukan yang akan disampaikan atau dibutuhkan pihak-pihak yang membutuhkan, sehingga data kependudukan yang dijadikan DPT pemilu benar-benar dapat dipercaya, dan tidak lagi memuat data warga yang telah meninggal, pindah domisili, atau anak-anak yang belum mempunyai hak pilih..
Pihak kecamatan dan kelurahan harus proaktif terhadap data kependudukan ini, jangan hanya menunggu laporan dari ketua RT, mereka tidak bisa diharapkan terlalu banyak atau membebankan hal tersebut kepada mereka begitu saja, karena jabatan yang mereka sandang hanya merupakan jabatan sosial di masyarakat, honor yang mereka terima tidak sebanding dengan tanggungjawab pekerjaan yang mereka lakukan, dan kita bersyukur masih ada dari induvidu masyarakat yang mau menerima jabatan ketua RT untuk mengurus semua kebutuhan masyarakat.
Argumen pemerintah bahwa persoalan DPT tersebut bukan urusan pemerintah, melainkan tanggung jawab KPU didasarkan atas penyerahan Daftar Penduduk Potensial Pemilu (DP4) yang diserahkan kepada KPU yang kemudian divalidasi olah KPU sehingga menjadi DPT, sepenuh tidak bisa dibebankan begitu saja kepada KPU, karena mereka memiliki keterbatasan-keterbatasan dalam hal ini, kita nyakin KPU tidak akan sanggup melakukan validasi atau pencoretan sendiri, untuk mendapatkan data DPT yang benar-benar valid, dan yang tahu soal pemilih di tingkat masyarakat itu hanya Ketua RT, bila DP4 yang disampaikan pemerintah tersebut meliki data yang valid, tentu keterbatasan yang dimiliki KPU bisa dieliminir sedemikian rupa, KPU bukanlah sebuah komisi supermen dan juga harus disadari mereka tidak terlibat sejak awal memproses data kependudukan, mereka tidak bisa leluasa berhubungan langsung dengan lembaga-lembaga kependudukan terkait sampai tingkat bawah, jabatan yang ada pada mereka tersebut merupakan jatabatan negara yang dibentuk oleh pemerintah tiap lima tahun sekali menjelang pelaksanaan pemilu.
Kita berharap persoalan DPT menjadi perhatian serius pemerintah, dan menjadi tanggungjawab moral bagi semua orang yang terlibat pada pemilu tersebut, jangan ada lagi hak rakyat hilang pada pemilu, hanya karena nama mereka tidak tercantum pada DPT, carilah alternatif-alternatif lain yang bisa mengakumudasi hak rakyat tersebut dalam menyalurkan haknya meskipun mereka tidak terdaftar di DPT, apakah dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP), atau Kartu Keluarga (KK) yang dimilikinya.
Pemerintah dan KPU harus menjadi solusi dari persoalan hak pilih rakyat ini, jangan menjadi pemberi masalah yang berpedoman kepada lengkapan persyaratan administrasi semata yang sifat statis, sehingga hilangnya hak pilih rakyat dalam kegiatan tersebut, pemerintah dan KPU harus bekerja dinamis yang memiliki dasar hukum yang kuat tidak kaku, sehingga rakyat yang tidak tercantum di DPT tetap dapat menyalurkan hak pilihnya, hargailah hak-hak mereka untuk memilih wakil-wakil mereka yang akan duduk dilembaga legislatif tersebut, dan bagi partai politik harus proaktif didalam memberikan informasi kepada KPU mengenai data konstituen yang berhak memilih, parpol harus mulai merubah pradikma selama ini, yang hanya bekerja pada saat pelaksanaan iven-iven tersebut diatas saja, diluar hal-hal tersebut diatas mereka berdiam diri seribu bahasa.
Kepada Caleg yang terpilih di dewan yang terhormat, harus ingat akan janji-janji yang pernah diucapkan sebagaimana yang pernah penulis tulis pada (Je,25/3) “Caleg dan RSJ”, dan kepada yang tidak terpilih harus legowo menerima itu semua, ingat mungkin itu yang terbaik bagi anda, karena Tuhan lebih tahu mana yang terbaik bagi umatnya.
“Dosen STMIK NURDIN HAMZAH JAMBI”
Pesta demokrasi pemilu legislatif 9 April 2009 baru saja berakhir, puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan YME pesta ini berjalan dengan damai dan tidak ada halangan yang cukup berarti, rakyat semangkin dewasa dalam berpolitik dan bijaksana dalam menyikapi persoalan hak pilih mereka yang tidak tercantum dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) pesta demokrasi 2009, diakui memang di beberapa TPS ada beberapa rakyat yang nama tidak tercantum dalam DPT legislatif 2009, sehingga mereka kehilangan hak untuk memilih pilihannya yang hanya muncul lima tahun sekali, mengapa ini bisa terjadi ?, pada hal pada pemilu 2004 dan pilwako Jambi 2009 yang lalu nama mereka tercantum pada DPT tersebut, persoalan ini harus disadari oleh penyelengara pemilu untuk pelaksanaan pilpres 2009 yang akan datang, apalah artinya kemenanga bila jumlahnya kecil dari pada jumlah rakyat yang tidak memilih pada pemilu tersebut, hanya dikarena nama mereka tidak tercantum pada DPT.
Mengapa persoalan DPT ini selalu muncul pada saat pilkada, pemilu legislatif dan pilpres, padahal kita bukan anak kecil lagi yang baru belajar dalam melaksanakan kegiatan besar tersebut, telah berulang kali kita melaksanakannya, bukan lagi sesuatu yang baru yang harus dibangun setiap pelaksanaan kegiatan tersebut, atau memang persoalan ini dikarenakan ampuradulnya penggolahan data kependudukan negeri ini, sehingga tidak dapat memberikan data yang valid untuk pelaksanaan pemilu, disisi lain bukankah beberapa provinsi telah menerapkan komputerisasi dalam hal penggolahan data kependudukannya, bila ini benar dilakukan dengan baik serta proses update datanya selalu dilakukan, maka itu akan dapat dijadikan sumber data otentik yang sangat dibutuhkan dalam setiap perhelatan diatas, komputer jangan hanya berfungsi sebagai entri data biasanya yang tidak ubahnya dengan proses manual, komputer harus berfungsi sebagai penggolahan data kependudukan yang berbasis database, nantinya dapat memberikan berbagai kebutuhan data bagi KPU atau instansi lain terhadap data lain seperti, bantuan sosial, raskin, BLT, Aseskin, dan lain sebagainya.
Kemunculan komputer pada awalnya adalah membantu proses kerja manusia, dalam hal keakuratan, kecepatan, dan lain sebagainya, untuk dapat melaksanakan itu semua, maka komputer dilengkapi dengan komponen hardware, software, dan brainware, ketiga komponen ini saling mendukung satu sama lainnya, bila salah satu dari komponen tersebut tidak ada, maka komputer tidak akan berfungsi dengan baik, sebagai contoh bila komponen brainware tidak ada yaitu komponen yang berhubungan dengan manusia sebagai otak atau pelaksana dari komputer tersebut maka sistem komputer tersebut tida akan berjalan dengan baik.
Komponen brainware sangat berhubungan erat dengan human error yaitu kesalahan manusia yang pada dasarnya memang sudah menjadi kondratnya manusia yang selalu berbuat kesalahan, faktor ini yang paling dominan terjadi, karena manusia mahkluk hidup yang memiliki beberapa kelemahan, memiliki rasa bosan, cepat letih, kurang teliti, dll, disamping kelemahan dari sisi keimanan, sehingga ia berani melakukan rekayasa terhadap data yang telah diproses dengan baik oleh komputer melalui proses program yang memiliki tingkat kevalidan yang dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan.
Sekiranya penggolahan data kependudukan tersebut selama ini telah di olah menggunakan komputerisasi yang berbasis database, maka seharusnya program kependudukan tersebut dapat mengantisipasi terjadi redudansi data (data berulang) pada data penduduk untuk DPT, programer bisa melakukan hal tersebut melalui proses klasifikasi terhadap data kependudukan yang ganda, yang bisa dilakukan melalui nomor induk kependudukan (NIK), atau usia dari penduduk, bahkan komputer dapat melakukan klasifikasi berdasarkan jenis kelamin, tempat tinggal, dan lain sebagainya sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan.
Untuk mendukung komputerisasi data kependudukan tersebut, peran dari ketua rukun tetangga (RT) sangatlah diperlukan, karena Ketua RT merupakan kepala pemerintah terkecil dalam pemerintahan yang besar, ia merupakan orang yang paling bertanggung jawab, dan mengetahui persoalan yang dihadapi warganya, namum sangat disayangkan peran ketua RT selama ini hanya menjadi pelengkap dari birokrasi negeri ini, antara ada dan tidak, dan yang paling irasional lagi, masyarakat yang akan mengurus KTP yang tidak memiliki surat pengantar dari RT pun, oleh pihak kecamatan masih bisa di proses (KTP), tentu dengan imbalan tertentu.
Peran ketua RT, seharusnya lebih diberdayakan dalam hal data kependudukan, sehingga warga yang mininggal, pindah domisili dapat diketahui sedini mungkin oleh pihak kecamatan sebagai bank data kecamatan, ini akan berdamfak terhadap kevalidan kependudukan yang akan disampaikan atau dibutuhkan pihak-pihak yang membutuhkan, sehingga data kependudukan yang dijadikan DPT pemilu benar-benar dapat dipercaya, dan tidak lagi memuat data warga yang telah meninggal, pindah domisili, atau anak-anak yang belum mempunyai hak pilih..
Pihak kecamatan dan kelurahan harus proaktif terhadap data kependudukan ini, jangan hanya menunggu laporan dari ketua RT, mereka tidak bisa diharapkan terlalu banyak atau membebankan hal tersebut kepada mereka begitu saja, karena jabatan yang mereka sandang hanya merupakan jabatan sosial di masyarakat, honor yang mereka terima tidak sebanding dengan tanggungjawab pekerjaan yang mereka lakukan, dan kita bersyukur masih ada dari induvidu masyarakat yang mau menerima jabatan ketua RT untuk mengurus semua kebutuhan masyarakat.
Argumen pemerintah bahwa persoalan DPT tersebut bukan urusan pemerintah, melainkan tanggung jawab KPU didasarkan atas penyerahan Daftar Penduduk Potensial Pemilu (DP4) yang diserahkan kepada KPU yang kemudian divalidasi olah KPU sehingga menjadi DPT, sepenuh tidak bisa dibebankan begitu saja kepada KPU, karena mereka memiliki keterbatasan-keterbatasan dalam hal ini, kita nyakin KPU tidak akan sanggup melakukan validasi atau pencoretan sendiri, untuk mendapatkan data DPT yang benar-benar valid, dan yang tahu soal pemilih di tingkat masyarakat itu hanya Ketua RT, bila DP4 yang disampaikan pemerintah tersebut meliki data yang valid, tentu keterbatasan yang dimiliki KPU bisa dieliminir sedemikian rupa, KPU bukanlah sebuah komisi supermen dan juga harus disadari mereka tidak terlibat sejak awal memproses data kependudukan, mereka tidak bisa leluasa berhubungan langsung dengan lembaga-lembaga kependudukan terkait sampai tingkat bawah, jabatan yang ada pada mereka tersebut merupakan jatabatan negara yang dibentuk oleh pemerintah tiap lima tahun sekali menjelang pelaksanaan pemilu.
Kita berharap persoalan DPT menjadi perhatian serius pemerintah, dan menjadi tanggungjawab moral bagi semua orang yang terlibat pada pemilu tersebut, jangan ada lagi hak rakyat hilang pada pemilu, hanya karena nama mereka tidak tercantum pada DPT, carilah alternatif-alternatif lain yang bisa mengakumudasi hak rakyat tersebut dalam menyalurkan haknya meskipun mereka tidak terdaftar di DPT, apakah dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP), atau Kartu Keluarga (KK) yang dimilikinya.
Pemerintah dan KPU harus menjadi solusi dari persoalan hak pilih rakyat ini, jangan menjadi pemberi masalah yang berpedoman kepada lengkapan persyaratan administrasi semata yang sifat statis, sehingga hilangnya hak pilih rakyat dalam kegiatan tersebut, pemerintah dan KPU harus bekerja dinamis yang memiliki dasar hukum yang kuat tidak kaku, sehingga rakyat yang tidak tercantum di DPT tetap dapat menyalurkan hak pilihnya, hargailah hak-hak mereka untuk memilih wakil-wakil mereka yang akan duduk dilembaga legislatif tersebut, dan bagi partai politik harus proaktif didalam memberikan informasi kepada KPU mengenai data konstituen yang berhak memilih, parpol harus mulai merubah pradikma selama ini, yang hanya bekerja pada saat pelaksanaan iven-iven tersebut diatas saja, diluar hal-hal tersebut diatas mereka berdiam diri seribu bahasa.
Kepada Caleg yang terpilih di dewan yang terhormat, harus ingat akan janji-janji yang pernah diucapkan sebagaimana yang pernah penulis tulis pada (Je,25/3) “Caleg dan RSJ”, dan kepada yang tidak terpilih harus legowo menerima itu semua, ingat mungkin itu yang terbaik bagi anda, karena Tuhan lebih tahu mana yang terbaik bagi umatnya.
“Dosen STMIK NURDIN HAMZAH JAMBI”
16 Maret 2009
Laptop Temanku Berubah Menjadi Sati Rim Kertas
“Laptop Temanku Berubah Menjadi Satu Rim Kertas”
Undang-Undang Guru dan Dosen membawa damfak terhadap animo guru dan Dosen untuk melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi, bagi para guru dan dosen yang memenuhi persyaratan dari UU tersebut akan mendapatkan intensif berupa tunjangan dari beberapa variabel yang ditentukan, tentu tidak diberikan begitu saja selepas studi mereka klar, mereka harus lulus terlebih dahulu uji kelayakan berupa sertifikasi dari pemerintah tentang tingkat proposional ilmunya.
Sertifikasi ini sangat mengiurkan sekali bagi para guru dan dosen tidak terkecuali kami dosen bukan PNS, pada tahun akademik 2008-2009 empat orang dari teman saya melanjutkan studi S2 ke Padang, dan sekarang telah memasuki semester 3 dari empat semester yang di targetkan. Keempat teman tersebut mengambil kuliah non reguler, 4 hari perkuliahan dalam satu bulan.
Berangkat dari Jambi ke Padang mereka menggunakan Bus umum, perjalanan ini sangat melelahkan, berangkat malam hari dan sampai di padang pagi harinya, selanjutnya langsung ke kampus untuk mengikuti kuliah. Lelah dan ngantuk tidak mereka rasakan, yang penting gelar S2 segera dapat dicapai dan ini akan membantu meningkat SDM bagi proses pendidikan yang lebih baik terhadap generasi bangsa ini, pradikma jeruk makan jeruk di dunia perguruan tinggi segera teratasi.
Saya cukup bangga terhadap mereka, disamping itu saya juga marasakah sedih atas kejadian yang menimpa satu dari mereka yaitu “kehilangan Laptop di Bus yang mereka tumpangi saat mau pulang dari Padang ke Jambi, kejadian ini baru ia sadari ketika mau berangkat ke kampus untuk melaksanakan aktivitas mengajar kembali, laptop yang biasa digunakan untuk mengajar, saat hendak dibuka dari tas reslitingnya macet seperti dilem menggunakan Ateko, tidak biasanya ini terjadi, dengan sedikit dipaksa akhirnya terbuka juga, mata ini terbelalak, jantung berdetak keras, napas menjadi ngosan, laptop kesayanganya telah berubah menjadi satu rim kertas HVS.
Mau melapor kesiapa tak tahu, coba melaporkan ke PO Bus tersebut, mereka tak menghiraukannya, dengan alasan “pada tiket penumpang telah tercantum bahwa barang bawaan yang sifat dijinjing oleh penumpang adalah tanggungjawan penumpang sendiri. Peristiwa ini pelajaran bagi rekan-rekan lain untuk waspada terhadap laptop yang dibawa, karena ini merupakan modus baru kejahatan khusus laptop diganti dengan satu rim kertas.
Undang-Undang Guru dan Dosen membawa damfak terhadap animo guru dan Dosen untuk melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi, bagi para guru dan dosen yang memenuhi persyaratan dari UU tersebut akan mendapatkan intensif berupa tunjangan dari beberapa variabel yang ditentukan, tentu tidak diberikan begitu saja selepas studi mereka klar, mereka harus lulus terlebih dahulu uji kelayakan berupa sertifikasi dari pemerintah tentang tingkat proposional ilmunya.
Sertifikasi ini sangat mengiurkan sekali bagi para guru dan dosen tidak terkecuali kami dosen bukan PNS, pada tahun akademik 2008-2009 empat orang dari teman saya melanjutkan studi S2 ke Padang, dan sekarang telah memasuki semester 3 dari empat semester yang di targetkan. Keempat teman tersebut mengambil kuliah non reguler, 4 hari perkuliahan dalam satu bulan.
Berangkat dari Jambi ke Padang mereka menggunakan Bus umum, perjalanan ini sangat melelahkan, berangkat malam hari dan sampai di padang pagi harinya, selanjutnya langsung ke kampus untuk mengikuti kuliah. Lelah dan ngantuk tidak mereka rasakan, yang penting gelar S2 segera dapat dicapai dan ini akan membantu meningkat SDM bagi proses pendidikan yang lebih baik terhadap generasi bangsa ini, pradikma jeruk makan jeruk di dunia perguruan tinggi segera teratasi.
Saya cukup bangga terhadap mereka, disamping itu saya juga marasakah sedih atas kejadian yang menimpa satu dari mereka yaitu “kehilangan Laptop di Bus yang mereka tumpangi saat mau pulang dari Padang ke Jambi, kejadian ini baru ia sadari ketika mau berangkat ke kampus untuk melaksanakan aktivitas mengajar kembali, laptop yang biasa digunakan untuk mengajar, saat hendak dibuka dari tas reslitingnya macet seperti dilem menggunakan Ateko, tidak biasanya ini terjadi, dengan sedikit dipaksa akhirnya terbuka juga, mata ini terbelalak, jantung berdetak keras, napas menjadi ngosan, laptop kesayanganya telah berubah menjadi satu rim kertas HVS.
Mau melapor kesiapa tak tahu, coba melaporkan ke PO Bus tersebut, mereka tak menghiraukannya, dengan alasan “pada tiket penumpang telah tercantum bahwa barang bawaan yang sifat dijinjing oleh penumpang adalah tanggungjawan penumpang sendiri. Peristiwa ini pelajaran bagi rekan-rekan lain untuk waspada terhadap laptop yang dibawa, karena ini merupakan modus baru kejahatan khusus laptop diganti dengan satu rim kertas.
23 Desember 2008
Peran Ibu Dalam Pendidikan
Penulis bersaudara empat orang laki tanpa perempuan, dilahirkan dari seorang ibu yang hanya tamat sekolah rakyat (SR), ayah bekerja sebagai tukang jahit, juga tamatan SR, mereka berdua berkolaborasi sangat baik dalam proses pendidikan kami dalam menempuh pendidikan, tiga dari kami sarjana dan satu tamat SMU. Keberhasilan kami menempuh pendidikan sampai ke perguruan tinggi, mengingatkan penulis pada ibu di Hari Ibu ke 80 tahun ini.
Setiap ibu di dunia ini tentu sangat menyadari sekali pentingnya pendidikan untuk anak-anak mereka sebagai bekal menjalani kehidupan dunia untuk kehidupan di akhirat yang lebih baik, sehingga beliau memberikan pendidikan kepada sang janin sejak dalam kandungan hingga anak dewasa, telah berapa banyak sumber daya manusia (SDM) yang dihasilkan dari rahimnya, mulai dari Presiden, Gubernur, Bupati, Camat, Lurah, Dosen, Guru, dll, mereka semua mendapat sentuhan ibu.
Pasca pendidikan janin diteruskan kependidikan play group, taman kanak-kanak, SD, SMP, SMU sampai Perguruan Tinggi, ibu dengan tambah, sabar melakukan aktivitas rutin tersebut setiap hari, tidak mengenal lelah dan berputus asa, bahkan membantu kembali anak di rumah untuk melapalkan huruf dan angka yang telah mereka pelajari di sekolah, sehingga anak dapat membaca dan berhitung, semua yang dilakukan ibu tersebut sekarang sangat kita rasakan, bagaimana dulunya ibu memandikan, memberikan sarapan pagi, mengantar kesekolah. Flasback dari aktivitas ibu tersebut dapat dilihat dari apa yang dilakukan istri kita dirumah tangga dan kemacetan disetiap hari sekolah pada sekolah yang berada di pinggir jalan akibat lalulintas orang tua mengantar dan menjemput anaknya sekolah yang dilakukan pada umumnya oleh kaum ibu.
Bagi keluarga yang cukup mapan, peran ayah sebagai kepala rumah tangga dalam memenuhi semua kebutuhan keluarga termasuk pendidikan anak tidak menjadi masalah segnifikan, sebaliknya bagi keluarga yang kurang mapan hal ini tentu menjadi masalah, sehingga harus dicari solusi untuk mengatasinya, solusi terbaik biasanya datang dari ibu, dimana beliau menawarkan dirinya untuk bekerja (Wanita Karir), dari berjualan sampai kerja kantoran dengan motivasi membantu ayah dalam hal keuangan keluarga sampai kelangsungan pendidikan anaknya, bahkan hasil kerja yang didapat ibu menjadi pemasukan utama keuangan keluarga.
Keputusan bekerja juga diambil ibu penulis, beliau bekerja bukan sebagai pegawai kantoran, tetapi bekerja usaha rumah tangga dengan membuat keripik balado dengan bahan dasar ubi kayu untuk dijual kepenjual lontong (lontong ketupat), semua keluarga menyadari hal ini, sehingga kami sekeluarga ikut membantu mendestribusikan dagangan ibu ke warung-warung lontong tersebut, biasa keripik ini dimakan bersama lontong akan menambah selera makan, ibu juga mengkriditkan baju-baju anak. Hasil usaha ibu sangat membantu sekali pendidikan kami, sehingga kami sangat bangga dengan beliau, alhamdullilah jerih payah ibu telah membuahkan hasil, dimana kami semua telah bekerja dan bekeluarga.
Dibelahan dunia lain Hari Ibu dikenal dengan nama Mother’s Day yang perayaannya lebih mengarah kepada puji-puji terhadap peran ibu dalam kehidupan kita, apapun perbedaan perayaan yang dilakukan dalam memperingati hari ibu tersebut dari negara satu dengan negara lainnya, hal yang terpenting bagi kita selaku anak adalah selalu memperhatikan beliau tidak hanya dari sisi materi tetapi juga kasih sayang, sopan santun sebagaimana yang dilakukannya terhadap kita.
Untuk mengujudkan perhatian dan kasih sayang tersebut sekarang lebih mudah dengan berkembangannya teknologi informasi, jarak, waktu bukan menjadi penghalang untuk menyapa dan menanyakan kesehatan beliau, hati ini bila mendengar suara ibu terasa nyaman dan hidup lebih bersemangat untuk menjalankan aktivitas sehari-hari, apalagi bila dapat mengunjungi beliau dan berkumpul bersama ibu, Ayah dan keluarga lainnya disaat lebaran, banyak kenangan indah yang tidak mungkin dilupakan.
Investasi pendidikan yang dilakukan seorang ibu terhadap anaknya merupakan investasi jangka panjang, ibu melakukan apapun demi pendidikan anaknya, hal ini banyak kita lihat bagaimana seorang ibu yang rela bekerja di sentor non formal, sebagai pembersih jalan (penyapu jalan), berjualan di Angso duo, berjualan kue keliling, dll, mereka tidak merasa hina atau rendah diri menjalani pekerjaan tersebut, sebagaimana juga yang dilakukan ibu penulis diatas.
Sebagai anak mungkin kita tidak merasakan tantangan yang dihadapi ibu dalam menjalani pekerjaan tersebut, baik berupa hinaan dari tetangga, atau orang-orang yang tidak suka terhadap ibu, kesehatan, dll, semua itu tidak melemahkan kepribadian dan kegigihan ibu mencari sesuatu hal yang halal untuk keluarga dan mungkin untuk kelanjutan pendidikan anak-anaknya, hinaan dan cacian yang beliau terima, tidak akan ia ceritakan kepada anak-anaknya, ia tidak ingin anaknya bersedih hanya karena dihina, malahan ini menjadi dorongan bagi dirinya untuk tetap bersemangat bekerja dalam mendapatkan biaya yang diperlukan dalam proses pendidikan anak-anaknya.
Keberhasilan pendidikan anak sangat di tentukan oleh kepedulian seorang ibu terhadap proses pendidikan, ibu dahulu dengan ibu sekarang tentu sangat berbeda peran dalam proses pendidikan anaknya, karena perkembangan zaman telah memuncul pradima yang berbeda dalam proses pendidikan disekolah, misalnya saja di sekolah SD sekarang, anak-anak kelas satu tidak lagi diperkenalkan dengan huruf dan angka, mereka telah dihadapi dengan beberapa buku paket yang butuh pemahan membaca, bukan mengeja, padahal kita ketahui tidak semua murid yang masuk tersebut bisa membaca, akibatnya di beberapa sekolah terjadi pengelompokan siswa berdasarkan kemampuannya, artinya yang pintar sama yang pintar (khusus) dan yang bodoh sama yang bodoh (standar), sistem ini juga menyebabkan lemahnya persaingan di kelas murid yang standar, dan sebaliknya persaingan tidak sehat terjadi pada kelas khusus, karena orang tua yang mapan ekonominya tentu akan bisa memenuhi semua faktor penunjang keberhasilan anak dengan berbagai kursus-kursus.
Pada zaman penulis sekolah dahulu tidak ada pengelompokan anak, semuanya mendapat pendidikan dengan porsi yang sama, pelajaran mengenal huruf, angka, membaca, berhitung, persaingan antar murid terjadi dengan sehat, ibu dan bapak guru memotivasi semua siswa untuk berlomba-lomba dalam meraih prestasi yang tinggi. Guru dan orang tua terjadi komunikasi yang baik dalam hal pendidikan anak.
Pentingnya peran ibu dalam proses pendidikan anak-anak, menjadikan ibu sebagai sentral yang harus diperhatikan oleh steakholder pendidikan, karena banyak kita lihat calon-calon ibu yaitu anak-anak wanita yang putus sekolah, bekerja sebagai gepeng di jalan-jalan, terjadinya pemerkosaan terhadap anak-anak wanita, aborsi, dll. Pemerintah berkewajiban memperhatikan mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap sumber daya manusia yang akan mereka lahir sebagai generasi yang akan meneruskan proses pembangunan.
Dalam proses politik, peran wanita juga dituntut 30% dari setiap partai politik, artinya pemerintah memandang wanita sebagai ibu bahkan sebagai ibu negara sangat berperan untuk mengujudkan masyarakat yang aman, makmur dan sejahteran, ibu-ibu adalah tiang negara, bila ibunya lemah, tentu regenerasi yang dilahirnyapun akan lemah, ibu adalah orang yang paling dekat dalam proses pendidikan anak, karena air susu yang diberikan kepada anak menjadi perekat yang kuat antara anak dengan ibu, ibu memiliki respon yang tinggi terhadap anak, kemampuan ibu memahami sesuatu yang didapatnya dari membaca, memahami sesuatu menjadi salah satu faktor mendorong anak untuk mengikuti apa yang dilakukan ibu.
Kasih ibu sepanjang masa, ia selalu memberi dan tak pernah meminta, proses pendidikan yang diberikan kepada putra-putrinya baik pendidikan formal dan non formal dilakukannya dengan iklas dan tidak pernah minta imbalan, pendidikan merupakan harta yang tak pernah habis sebagai bekal bagi putra-putrinya menjalani kehidupan ini, dan itu tidak bisa diganti dalam bentuk materi, karena materi bila tidak dikelola dengan baik tentu akan habis di telan zaman, bahkan menjadi malapetaka perselisihan antar anak.
Ibu, kami mengucapkan terima kasih atas usaha ibu membantu ayah dalam hal pembiayaan proses pendidikan, kami berharap kolaborasi antara ibu dan ayah juga bisa menjadi contoh untuk dilakukan keluarga-keluarga kami, dan nantinya tentu akan bermuara kepada tercapainya keluarga-keluarga sakinah, melahirkan generasi-generasi yang tangguh, mandiri. Kami menyadari bahwa surga itu terletak dikakimu ibu, untuk itu kami mohon ridhomu sehingga Allah merindhoi semua aktivitas yang akan kami jalani, Amin ya rabalalamin.
“Dosen STMIK NURDIN HAMZAH”
Setiap ibu di dunia ini tentu sangat menyadari sekali pentingnya pendidikan untuk anak-anak mereka sebagai bekal menjalani kehidupan dunia untuk kehidupan di akhirat yang lebih baik, sehingga beliau memberikan pendidikan kepada sang janin sejak dalam kandungan hingga anak dewasa, telah berapa banyak sumber daya manusia (SDM) yang dihasilkan dari rahimnya, mulai dari Presiden, Gubernur, Bupati, Camat, Lurah, Dosen, Guru, dll, mereka semua mendapat sentuhan ibu.
Pasca pendidikan janin diteruskan kependidikan play group, taman kanak-kanak, SD, SMP, SMU sampai Perguruan Tinggi, ibu dengan tambah, sabar melakukan aktivitas rutin tersebut setiap hari, tidak mengenal lelah dan berputus asa, bahkan membantu kembali anak di rumah untuk melapalkan huruf dan angka yang telah mereka pelajari di sekolah, sehingga anak dapat membaca dan berhitung, semua yang dilakukan ibu tersebut sekarang sangat kita rasakan, bagaimana dulunya ibu memandikan, memberikan sarapan pagi, mengantar kesekolah. Flasback dari aktivitas ibu tersebut dapat dilihat dari apa yang dilakukan istri kita dirumah tangga dan kemacetan disetiap hari sekolah pada sekolah yang berada di pinggir jalan akibat lalulintas orang tua mengantar dan menjemput anaknya sekolah yang dilakukan pada umumnya oleh kaum ibu.
Bagi keluarga yang cukup mapan, peran ayah sebagai kepala rumah tangga dalam memenuhi semua kebutuhan keluarga termasuk pendidikan anak tidak menjadi masalah segnifikan, sebaliknya bagi keluarga yang kurang mapan hal ini tentu menjadi masalah, sehingga harus dicari solusi untuk mengatasinya, solusi terbaik biasanya datang dari ibu, dimana beliau menawarkan dirinya untuk bekerja (Wanita Karir), dari berjualan sampai kerja kantoran dengan motivasi membantu ayah dalam hal keuangan keluarga sampai kelangsungan pendidikan anaknya, bahkan hasil kerja yang didapat ibu menjadi pemasukan utama keuangan keluarga.
Keputusan bekerja juga diambil ibu penulis, beliau bekerja bukan sebagai pegawai kantoran, tetapi bekerja usaha rumah tangga dengan membuat keripik balado dengan bahan dasar ubi kayu untuk dijual kepenjual lontong (lontong ketupat), semua keluarga menyadari hal ini, sehingga kami sekeluarga ikut membantu mendestribusikan dagangan ibu ke warung-warung lontong tersebut, biasa keripik ini dimakan bersama lontong akan menambah selera makan, ibu juga mengkriditkan baju-baju anak. Hasil usaha ibu sangat membantu sekali pendidikan kami, sehingga kami sangat bangga dengan beliau, alhamdullilah jerih payah ibu telah membuahkan hasil, dimana kami semua telah bekerja dan bekeluarga.
Dibelahan dunia lain Hari Ibu dikenal dengan nama Mother’s Day yang perayaannya lebih mengarah kepada puji-puji terhadap peran ibu dalam kehidupan kita, apapun perbedaan perayaan yang dilakukan dalam memperingati hari ibu tersebut dari negara satu dengan negara lainnya, hal yang terpenting bagi kita selaku anak adalah selalu memperhatikan beliau tidak hanya dari sisi materi tetapi juga kasih sayang, sopan santun sebagaimana yang dilakukannya terhadap kita.
Untuk mengujudkan perhatian dan kasih sayang tersebut sekarang lebih mudah dengan berkembangannya teknologi informasi, jarak, waktu bukan menjadi penghalang untuk menyapa dan menanyakan kesehatan beliau, hati ini bila mendengar suara ibu terasa nyaman dan hidup lebih bersemangat untuk menjalankan aktivitas sehari-hari, apalagi bila dapat mengunjungi beliau dan berkumpul bersama ibu, Ayah dan keluarga lainnya disaat lebaran, banyak kenangan indah yang tidak mungkin dilupakan.
Investasi pendidikan yang dilakukan seorang ibu terhadap anaknya merupakan investasi jangka panjang, ibu melakukan apapun demi pendidikan anaknya, hal ini banyak kita lihat bagaimana seorang ibu yang rela bekerja di sentor non formal, sebagai pembersih jalan (penyapu jalan), berjualan di Angso duo, berjualan kue keliling, dll, mereka tidak merasa hina atau rendah diri menjalani pekerjaan tersebut, sebagaimana juga yang dilakukan ibu penulis diatas.
Sebagai anak mungkin kita tidak merasakan tantangan yang dihadapi ibu dalam menjalani pekerjaan tersebut, baik berupa hinaan dari tetangga, atau orang-orang yang tidak suka terhadap ibu, kesehatan, dll, semua itu tidak melemahkan kepribadian dan kegigihan ibu mencari sesuatu hal yang halal untuk keluarga dan mungkin untuk kelanjutan pendidikan anak-anaknya, hinaan dan cacian yang beliau terima, tidak akan ia ceritakan kepada anak-anaknya, ia tidak ingin anaknya bersedih hanya karena dihina, malahan ini menjadi dorongan bagi dirinya untuk tetap bersemangat bekerja dalam mendapatkan biaya yang diperlukan dalam proses pendidikan anak-anaknya.
Keberhasilan pendidikan anak sangat di tentukan oleh kepedulian seorang ibu terhadap proses pendidikan, ibu dahulu dengan ibu sekarang tentu sangat berbeda peran dalam proses pendidikan anaknya, karena perkembangan zaman telah memuncul pradima yang berbeda dalam proses pendidikan disekolah, misalnya saja di sekolah SD sekarang, anak-anak kelas satu tidak lagi diperkenalkan dengan huruf dan angka, mereka telah dihadapi dengan beberapa buku paket yang butuh pemahan membaca, bukan mengeja, padahal kita ketahui tidak semua murid yang masuk tersebut bisa membaca, akibatnya di beberapa sekolah terjadi pengelompokan siswa berdasarkan kemampuannya, artinya yang pintar sama yang pintar (khusus) dan yang bodoh sama yang bodoh (standar), sistem ini juga menyebabkan lemahnya persaingan di kelas murid yang standar, dan sebaliknya persaingan tidak sehat terjadi pada kelas khusus, karena orang tua yang mapan ekonominya tentu akan bisa memenuhi semua faktor penunjang keberhasilan anak dengan berbagai kursus-kursus.
Pada zaman penulis sekolah dahulu tidak ada pengelompokan anak, semuanya mendapat pendidikan dengan porsi yang sama, pelajaran mengenal huruf, angka, membaca, berhitung, persaingan antar murid terjadi dengan sehat, ibu dan bapak guru memotivasi semua siswa untuk berlomba-lomba dalam meraih prestasi yang tinggi. Guru dan orang tua terjadi komunikasi yang baik dalam hal pendidikan anak.
Pentingnya peran ibu dalam proses pendidikan anak-anak, menjadikan ibu sebagai sentral yang harus diperhatikan oleh steakholder pendidikan, karena banyak kita lihat calon-calon ibu yaitu anak-anak wanita yang putus sekolah, bekerja sebagai gepeng di jalan-jalan, terjadinya pemerkosaan terhadap anak-anak wanita, aborsi, dll. Pemerintah berkewajiban memperhatikan mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap sumber daya manusia yang akan mereka lahir sebagai generasi yang akan meneruskan proses pembangunan.
Dalam proses politik, peran wanita juga dituntut 30% dari setiap partai politik, artinya pemerintah memandang wanita sebagai ibu bahkan sebagai ibu negara sangat berperan untuk mengujudkan masyarakat yang aman, makmur dan sejahteran, ibu-ibu adalah tiang negara, bila ibunya lemah, tentu regenerasi yang dilahirnyapun akan lemah, ibu adalah orang yang paling dekat dalam proses pendidikan anak, karena air susu yang diberikan kepada anak menjadi perekat yang kuat antara anak dengan ibu, ibu memiliki respon yang tinggi terhadap anak, kemampuan ibu memahami sesuatu yang didapatnya dari membaca, memahami sesuatu menjadi salah satu faktor mendorong anak untuk mengikuti apa yang dilakukan ibu.
Kasih ibu sepanjang masa, ia selalu memberi dan tak pernah meminta, proses pendidikan yang diberikan kepada putra-putrinya baik pendidikan formal dan non formal dilakukannya dengan iklas dan tidak pernah minta imbalan, pendidikan merupakan harta yang tak pernah habis sebagai bekal bagi putra-putrinya menjalani kehidupan ini, dan itu tidak bisa diganti dalam bentuk materi, karena materi bila tidak dikelola dengan baik tentu akan habis di telan zaman, bahkan menjadi malapetaka perselisihan antar anak.
Ibu, kami mengucapkan terima kasih atas usaha ibu membantu ayah dalam hal pembiayaan proses pendidikan, kami berharap kolaborasi antara ibu dan ayah juga bisa menjadi contoh untuk dilakukan keluarga-keluarga kami, dan nantinya tentu akan bermuara kepada tercapainya keluarga-keluarga sakinah, melahirkan generasi-generasi yang tangguh, mandiri. Kami menyadari bahwa surga itu terletak dikakimu ibu, untuk itu kami mohon ridhomu sehingga Allah merindhoi semua aktivitas yang akan kami jalani, Amin ya rabalalamin.
“Dosen STMIK NURDIN HAMZAH”
28 November 2008
Pencitraan DPR
“Pencitraan DPR”
Oleh: Ir. Riswan, MMSI
Komisi pemilihan Umum (KPU telah menetapkan 34 partai politik (parpol) yang lolos verifikasi dan berhak ikut serta pada ajang pemilu 2009, peningkatan peserta parpol yang ikut pesta demokrasi Indonesia ke dua setelah era reformasi menandakan kesadaran masyarakat untuk turut andil dalam proses politik mengalami peningkatan yang segnifikan atau bisa juga hanya sekedar menikmati reski lima tahunan dari pemerintah sebagai biaya operasional penyelenggaraan pemilu yang akan didapatkan parpol.
Tahun 2008 ini pencitraan dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang terhormat sangat negatif, akibat tersandung masalah hukum yang berhubungan dengan kasus suap terhadap pembahasan RUU yang dilakukan, apakah perilaku suap ini ada kaitannya dengan biaya besar yang telah mereka keluarkan pada saat mencalonkan diri menjadi legislatif (caleg) sebelumnya, dan setelah terpilih ada keinginan untuk mengembalikan dana yang telah keluar tersebut, sesuatu yang kontradiktif dari apa yang mereka sampaikan pada saat kampanye kepada masyarakat.
Apakah tindakan suap yang terjadi pada anggota dewan yang terhormat tersebut, bisa dikatagorikan sebatas dorongan dari beban biaya materi yang cukup besar yang telah mereka keluarkan pada pencalonan dirinya pada pemilu 2004 yang lalu yang akan segera berakhir dan harus segera dapat dikembalikan dalam hitungan detik, semudah membalikan telapak tangan, untuk di jadikan modal kembali pada pemilu 2009 yang akan datang.
Secara normatif materi yang telah di korban tersebut bisa kembali, tentu tidak dalam perspektif telapak tangan, karena datang atau tidak datang saja ke gedung dewan, mereka telah mengantongi gaji lebih kurang sebesar 46 juta perbulan, belum lagi ditambah honor bila terlibat dalam pembahasan RUU, perjalanan dinas, maka pundi-pundi mereka akan bertambah terus, membuat iri para sarjana lulusan perguruan tinggi.
Besarnya insentif yang diterima anggota legislatif, telah menumbuhkan minat kaulamuda untuk masuk ke ranah ini melalui jalur parpol yang ada, hampir semua parpol yang ada di isi oleh anak-anak muda, jabatan DPR sekarang tidak hanya sekedar tempat untuk menyuarakan kepentingan rakyar tetapi telah bertambah perannya sebagai tempat mencari pekerjaan.
Apakah pencitraan negatif ini dilatarbelakangi atas besarnya dana yang mereka keluarkan terlalu besar, disinyalir berkisar antara 200 juta sampai 1 milyar yang didistribusikan untuk berbagai hal, dana kampanye, transfortasi, baju kaos, atribut, menjalin hubungan dengan konstituen, penggalangan massa, bantuan ke mesjid, bantuan renopasi jalan, dll, dengan harapan konstituen nantinya memilih mereka. Besarnya dana yang dikeluarkan juga bagian dari proses tawar menawar untuk mendapatkan nomor urut jadi (1), melakukan penggalangan dengan DPC dan PAC sebagai mesin pengerak perolehan suara.
Fenomena ini menandakan bahwa action plan yang dilakukan disebabkan rasa tidak percaya diri atas kemampuan yang dimiliki, tidak mampu secara interaktif bagaimana menyampaikan program-program kerja ke masyarakat, mengapa konstituen harus memilih mereka, disisi lain menjadi anggota legislatif sudah menjadi suatu propesi yang sama dengan propesi lain seperti dr, guru, dosen, dan propesi lainnya, bukan hanya sekedar panggilan jiwa sebagai keterwakilan rakyat di dalam mengawasi jalan pemerintahan, atau perpanjangan tangan rakyat untuk memperjuangan kepentingan rakyat untuk mencapai kesejahteraan yang didambakan, tetapi sudah mengarah kepada peluang pekerjaan yang menjanjikan dengan imbalan gaji yang cukup besar.
Oriantasi diatas akan menyebabkan publik akan susah mencari anggota legislatif bekerja secara idial, uang telah menjadi godaan yang ampuh merusak citra anggota DPR, pencitraan positif yang telah melekat pada mereka, dengan sekejab mata akan berubah menjadi negatif, satu orang yang berbuat semuanya kena getahnya, rusak susu sebelanga akibat nila setitik. Apakah caleg 2009 yang akan datang akan sama kondisinya dengan caleg 2004 yang lalu, meskipun sistem penentuan caleg terpilih diatur dalam UU Pemilu No.10/2008 yaitu 30 persen suara dari bilangan pembagi pemilih (BPP) berhak menjadi Anggota Legislatif, dan kalau tidak akan dikembalikan ke nomor urutnya semula, sistem tidak jauh berbeda dengan sistem nomor urut pemilu 2004, karena memberikan alternatif, tentu caleg akan berusaha mendapatkan nomor urut 1 karena peluangnya berat untuk mencapai syarat yang ditentukan, dan ini akan dimanfaatkan orang-orang partai untuk tawar-menawar harga yang lebih mengarah deal or not deal terhadap kepemilikan nomor urut tersebut, artinya untuk mendapatkan nomor jadi tentu caleg yang memiliki dana besarlah yang akan menjadi pemenangnya, disisi lain banyaknya pemekaran wilayah juga menuntut partai politik untuk mengembangkan partainya, partisipasi caleg sangat diharapkan untuk bisa membantu dan mengembangkannya dalam ujud pendanaan, yang akan dipersyaratkan kepada caleg yang mau mencalonkan diri pada pemilu 2009, banyaknya sumber daya berpotensi yang bercokol dipartai juga menjadi persaingan tersendiri dalam meraih dana yang besar bagi partai.
Besarnya dana yang dikeluarkan oleh caleg nantinya akan mempengaruhinya setelah terpilih menjadi anggota legislatif, baik perubahan perilaku dan penampilan yang semuanya serba lux, kita juga tidak memungkiri bahwa perubahan ini tidak semua terjadi pada anggota legislatif, tetapi persentasenya bisa dihitung. Perubahan yang dialami oleh anggota legislatif tidak hanya terjadi pada penampilan dan gaya hidup tetapi juga terjadi pada petualangan cinta dengan fhoto-fhoto surnya yang menghebohkan masyarakat dan menjadi kontribusi para pengguna dunia maya (internet).
Sebagai masyarakat awam kita tidak habis pikir dari pencitraan miring (negatif) akibat kasus yang dialami oleh anggota DPR terhormat ini, besarnya insentif yang mereka terima perbulannya dan ditambah dengan honor-honor lain, belum mampu membendung hati dan jiwa mereka untuk menghindar dari persoalan suap, kepuasan dan rasa syukur belum bisa mereka ujudkan dengan ikhlas kepada pemberi reski, apakah kondisi ini disebabkan besarnya dana yang telah mereka habis pada saat mencalonkan diri menjadi anggota legislatif, belum kembali dalam bentuk keuntungan atau memang tuntutan kebutuhan mereka yang cukup besar dalam mengimbangi gaya rekan-rekan mereka di gedung DPR.
Masyarakat tidak bisa berharap banyak kepada caleg yang terpilih menjadi anggota legislatif didasarkan atas banyaknya dana yang telah dikeluarkan, ibarat pedagang tentu ia akan berusaha terlebih dahulu mengembalikan investasi yang keluarkan untuk menduduki jabatan tersebut, kemudian mencoba mendapatkan keuntungan dari investasi tersebut, dan bila sudah puas dan semuanya sudah terpenuhi baru memikirkan rakyat.
Sebagai catatan bagi kita semua meskipun, caleg pemilu tahun 2004 yang lalu telah mengeluarkan dana yang begitu besar ternyata diantara mereka juga tidak terpilih menjadi anggota legislatif untuk duduk di kursi empuk Dewan Perwakilan Rakyat, apakah ini faktor ketidak beruntungan semata atau memang faktor trek rekor caleg telah menjadi buah bibir di tengah publik, ini menandakan bahwa isu yang berkembang di masyarakat tentang “memanfaatkan setiap apa yang diberikan caleg untuk diterima, dengan tidak memandang siapapun dia”, benar adanya, yang berhubungan dengan pilihan itu adalah hati nurani.
Kepada caleg pemilu 2009 yang telah lolos paktualisasi, agar dana yang anda keluarkan tersebut tidak sia-sia maka seimbangkanlah keberadaan anda di tengah masyarakat dengan baik, tingkah laku anda akan mencerminkan suara dukungan yang akan anda peroleh nantinya, selamat menjadi caleg 2009, semoga sukses dan aspiratif terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat.
Oleh: Ir. Riswan, MMSI
Komisi pemilihan Umum (KPU telah menetapkan 34 partai politik (parpol) yang lolos verifikasi dan berhak ikut serta pada ajang pemilu 2009, peningkatan peserta parpol yang ikut pesta demokrasi Indonesia ke dua setelah era reformasi menandakan kesadaran masyarakat untuk turut andil dalam proses politik mengalami peningkatan yang segnifikan atau bisa juga hanya sekedar menikmati reski lima tahunan dari pemerintah sebagai biaya operasional penyelenggaraan pemilu yang akan didapatkan parpol.
Tahun 2008 ini pencitraan dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang terhormat sangat negatif, akibat tersandung masalah hukum yang berhubungan dengan kasus suap terhadap pembahasan RUU yang dilakukan, apakah perilaku suap ini ada kaitannya dengan biaya besar yang telah mereka keluarkan pada saat mencalonkan diri menjadi legislatif (caleg) sebelumnya, dan setelah terpilih ada keinginan untuk mengembalikan dana yang telah keluar tersebut, sesuatu yang kontradiktif dari apa yang mereka sampaikan pada saat kampanye kepada masyarakat.
Apakah tindakan suap yang terjadi pada anggota dewan yang terhormat tersebut, bisa dikatagorikan sebatas dorongan dari beban biaya materi yang cukup besar yang telah mereka keluarkan pada pencalonan dirinya pada pemilu 2004 yang lalu yang akan segera berakhir dan harus segera dapat dikembalikan dalam hitungan detik, semudah membalikan telapak tangan, untuk di jadikan modal kembali pada pemilu 2009 yang akan datang.
Secara normatif materi yang telah di korban tersebut bisa kembali, tentu tidak dalam perspektif telapak tangan, karena datang atau tidak datang saja ke gedung dewan, mereka telah mengantongi gaji lebih kurang sebesar 46 juta perbulan, belum lagi ditambah honor bila terlibat dalam pembahasan RUU, perjalanan dinas, maka pundi-pundi mereka akan bertambah terus, membuat iri para sarjana lulusan perguruan tinggi.
Besarnya insentif yang diterima anggota legislatif, telah menumbuhkan minat kaulamuda untuk masuk ke ranah ini melalui jalur parpol yang ada, hampir semua parpol yang ada di isi oleh anak-anak muda, jabatan DPR sekarang tidak hanya sekedar tempat untuk menyuarakan kepentingan rakyar tetapi telah bertambah perannya sebagai tempat mencari pekerjaan.
Apakah pencitraan negatif ini dilatarbelakangi atas besarnya dana yang mereka keluarkan terlalu besar, disinyalir berkisar antara 200 juta sampai 1 milyar yang didistribusikan untuk berbagai hal, dana kampanye, transfortasi, baju kaos, atribut, menjalin hubungan dengan konstituen, penggalangan massa, bantuan ke mesjid, bantuan renopasi jalan, dll, dengan harapan konstituen nantinya memilih mereka. Besarnya dana yang dikeluarkan juga bagian dari proses tawar menawar untuk mendapatkan nomor urut jadi (1), melakukan penggalangan dengan DPC dan PAC sebagai mesin pengerak perolehan suara.
Fenomena ini menandakan bahwa action plan yang dilakukan disebabkan rasa tidak percaya diri atas kemampuan yang dimiliki, tidak mampu secara interaktif bagaimana menyampaikan program-program kerja ke masyarakat, mengapa konstituen harus memilih mereka, disisi lain menjadi anggota legislatif sudah menjadi suatu propesi yang sama dengan propesi lain seperti dr, guru, dosen, dan propesi lainnya, bukan hanya sekedar panggilan jiwa sebagai keterwakilan rakyat di dalam mengawasi jalan pemerintahan, atau perpanjangan tangan rakyat untuk memperjuangan kepentingan rakyat untuk mencapai kesejahteraan yang didambakan, tetapi sudah mengarah kepada peluang pekerjaan yang menjanjikan dengan imbalan gaji yang cukup besar.
Oriantasi diatas akan menyebabkan publik akan susah mencari anggota legislatif bekerja secara idial, uang telah menjadi godaan yang ampuh merusak citra anggota DPR, pencitraan positif yang telah melekat pada mereka, dengan sekejab mata akan berubah menjadi negatif, satu orang yang berbuat semuanya kena getahnya, rusak susu sebelanga akibat nila setitik. Apakah caleg 2009 yang akan datang akan sama kondisinya dengan caleg 2004 yang lalu, meskipun sistem penentuan caleg terpilih diatur dalam UU Pemilu No.10/2008 yaitu 30 persen suara dari bilangan pembagi pemilih (BPP) berhak menjadi Anggota Legislatif, dan kalau tidak akan dikembalikan ke nomor urutnya semula, sistem tidak jauh berbeda dengan sistem nomor urut pemilu 2004, karena memberikan alternatif, tentu caleg akan berusaha mendapatkan nomor urut 1 karena peluangnya berat untuk mencapai syarat yang ditentukan, dan ini akan dimanfaatkan orang-orang partai untuk tawar-menawar harga yang lebih mengarah deal or not deal terhadap kepemilikan nomor urut tersebut, artinya untuk mendapatkan nomor jadi tentu caleg yang memiliki dana besarlah yang akan menjadi pemenangnya, disisi lain banyaknya pemekaran wilayah juga menuntut partai politik untuk mengembangkan partainya, partisipasi caleg sangat diharapkan untuk bisa membantu dan mengembangkannya dalam ujud pendanaan, yang akan dipersyaratkan kepada caleg yang mau mencalonkan diri pada pemilu 2009, banyaknya sumber daya berpotensi yang bercokol dipartai juga menjadi persaingan tersendiri dalam meraih dana yang besar bagi partai.
Besarnya dana yang dikeluarkan oleh caleg nantinya akan mempengaruhinya setelah terpilih menjadi anggota legislatif, baik perubahan perilaku dan penampilan yang semuanya serba lux, kita juga tidak memungkiri bahwa perubahan ini tidak semua terjadi pada anggota legislatif, tetapi persentasenya bisa dihitung. Perubahan yang dialami oleh anggota legislatif tidak hanya terjadi pada penampilan dan gaya hidup tetapi juga terjadi pada petualangan cinta dengan fhoto-fhoto surnya yang menghebohkan masyarakat dan menjadi kontribusi para pengguna dunia maya (internet).
Sebagai masyarakat awam kita tidak habis pikir dari pencitraan miring (negatif) akibat kasus yang dialami oleh anggota DPR terhormat ini, besarnya insentif yang mereka terima perbulannya dan ditambah dengan honor-honor lain, belum mampu membendung hati dan jiwa mereka untuk menghindar dari persoalan suap, kepuasan dan rasa syukur belum bisa mereka ujudkan dengan ikhlas kepada pemberi reski, apakah kondisi ini disebabkan besarnya dana yang telah mereka habis pada saat mencalonkan diri menjadi anggota legislatif, belum kembali dalam bentuk keuntungan atau memang tuntutan kebutuhan mereka yang cukup besar dalam mengimbangi gaya rekan-rekan mereka di gedung DPR.
Masyarakat tidak bisa berharap banyak kepada caleg yang terpilih menjadi anggota legislatif didasarkan atas banyaknya dana yang telah dikeluarkan, ibarat pedagang tentu ia akan berusaha terlebih dahulu mengembalikan investasi yang keluarkan untuk menduduki jabatan tersebut, kemudian mencoba mendapatkan keuntungan dari investasi tersebut, dan bila sudah puas dan semuanya sudah terpenuhi baru memikirkan rakyat.
Sebagai catatan bagi kita semua meskipun, caleg pemilu tahun 2004 yang lalu telah mengeluarkan dana yang begitu besar ternyata diantara mereka juga tidak terpilih menjadi anggota legislatif untuk duduk di kursi empuk Dewan Perwakilan Rakyat, apakah ini faktor ketidak beruntungan semata atau memang faktor trek rekor caleg telah menjadi buah bibir di tengah publik, ini menandakan bahwa isu yang berkembang di masyarakat tentang “memanfaatkan setiap apa yang diberikan caleg untuk diterima, dengan tidak memandang siapapun dia”, benar adanya, yang berhubungan dengan pilihan itu adalah hati nurani.
Kepada caleg pemilu 2009 yang telah lolos paktualisasi, agar dana yang anda keluarkan tersebut tidak sia-sia maka seimbangkanlah keberadaan anda di tengah masyarakat dengan baik, tingkah laku anda akan mencerminkan suara dukungan yang akan anda peroleh nantinya, selamat menjadi caleg 2009, semoga sukses dan aspiratif terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat.
16 Juli 2008
Blog Media Ekspresi On Line
"BLOG MEDIA EKSPRESI ON LINE”
Kebebasan berekspresi dalam bentuk karya tulis menulis membutuhkan media yang dapat menampung ide dan gagasan tentang topik yang menjadi objek tulisan tersebut, tidak semua media dapat menampung dan mempublikasikan tulisan tersebut ke pembaca, karena keterbatasan kolom yang dimiliki oleh media, atau usangnya ide dan gagasan topik tersebut untuk dipublikasikan ke masyarakat, persaingan antar penulis lepas dan banyaknya penulis senior yang memiliki kolom-kolom tersendiri yang diasuhnya untuk tulisannya, hal ini membuat para penulis mencari solusi alternatif yang dapat menampung ekspresi tulisan mereka untuk dapat dipublikasikan ke pembaca.
Kebebasan berekspresi dalam bentuk karya tulis menulis membutuhkan media yang dapat menampung ide dan gagasan tentang topik yang menjadi objek tulisan tersebut, tidak semua media dapat menampung dan mempublikasikan tulisan tersebut ke pembaca, karena keterbatasan kolom yang dimiliki oleh media, atau usangnya ide dan gagasan topik tersebut untuk dipublikasikan ke masyarakat, persaingan antar penulis lepas dan banyaknya penulis senior yang memiliki kolom-kolom tersendiri yang diasuhnya untuk tulisannya, hal ini membuat para penulis mencari solusi alternatif yang dapat menampung ekspresi tulisan mereka untuk dapat dipublikasikan ke pembaca.
Salah satu media ekspresi yang dapat dimanfaatkan oleh penulis untuk publikasi tulisannya adalah blog, suatu media on-line yang dapat menampung ekspresi penulis dalam bentuk web. Fasilitas ini sekarang banyak dimanfaatkan oleh banyak orang untuk mempublikasikan gagasan dan ide, baik para jurnalis dan amatiran untuk menerbitkan berita terkini, atau publikasi politik, dan komentar-komentar kondisi paktual yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang luput dipantau oleh para jurnalis, dan link ke situs web paporit yang menjadi pilihan.
Bagi yang hobi tulis menulis, tidak usah berkecil hati dan sedih atas tidak dimuatnya tulisan anda oleh redaksi pada media cetak, anda bisa salurkan hobi dan partisipasi anda dalam membangun negeri ini ke fasilitas blog yang disediakan oleh beberapa web, seperti blogger.com, wordPress.com, tulisan anda di blog pribadi ini kadang-kadang bisa mempengaruh ribuan pemirsa di seluruh dunia yang terkoneksi ke jalur internet.
Blog memberikan ruang bagi penulis untuk mempublikasikan tulisan, berita, dan sebagainya, tentu dengan batasan-batasan yang normatif, tidak berbauk sara, raksis, pornografi, dll, agar kontinunitas dari blog itu sendiri di dunia maya tetap berlangsung. Blog juga dapat dijadikan sarana untuk bertukar pikiran sesama komunitas kesehatan, olahraga, politik, budaya, pendidikan dan komunitas lainnya. Banyak manfaat yang didapat antar komunitas ini, terutama bertukar informasi mengenai sesuatu dan lain halnya.
Blog dapat dijadikan sarana transformasi ilmu pengetahuan bagi pendidik secara out kelas, pendidik dituntut untuk berkreasi secara ilmiah pada bidang ilmu pengetahuan yang digeluti, sehingga pembaca blok mendapatkan pencerahan terhadap ilmu pengetahuan yang dipublikasikan. Pendidik harus rajin melakukan posting dan mengupdate materi yang akan dibrowsing oleh siswa, dan juga memberi ruang bagi siswa untuk merespon materi yang dipublikasikan, sehingga terjadi komunikasi yang interaktif kedua belah pihak, dan juga menghindari dari kejenuhan akan rutinitas serta mendorong user untuk lebih berani membahas tentang materi yang dipublikasikan.
Blog memberikan ruang dan fasilitas bagi penulis untuk mempublikasi hal-hal berupa fhoto, animasi, ide-ide dan gagasan tentang sesuatu hal, juga memberi ruang komentar bagi pembaca blog yang nantinya sangat berfungsi positif untuk melakukan pencerahan terhadap ide dan gagasan yang telah dipublikasikan tersebut, komentar-komentar inilah nantinya akan memperkaya gagasan dan ide yang dikembangkan, ada sifatnya kritikan dan saran atau sinisme terhadap tulisan yang dipublikasikan, semua tidak lain memperkaya ranah tulisan kedepan nantinya.
Untuk dapat mempublikasi gagasan, ide dan lain sebagainya ke blog tersebut, diperlukan beberapa hal antara lain :
Komputer terkoneksi ke Internet
Komputer yang anda punyai harus telah terkoneksi ke jalur internet, ini bisa dilakukan dengan mendaftar kepada beberapa penyelenggara jasa layanagan internet atau internet services provaider (ISP) yang ada dikota anda.
Memiliki E-Mail
Setelah terkoneksi ke interner, anda harus memiliki alamat e-mail yang merupakan syarat utama yang harus dimiliki oleh penulis untuk bisa menggunakan fasilitas blog yang disediakan, untuk membuat e-mail ini bisa dilakukan secara gratis pada beberapa web yang menyediakannya fasilitsnya, misalnya pada web wwe.yahoo.com, tanpa e-mail yang penulis miliki, tidak akan dapat membuat blog, e-mail berfungsi sebagai alamat bagi user lain untuk mengirimkan iinformasi kepada anda, juga berfungsi membantu anda oleh vendor dalam mengatasi kesalahan yang anda lakukan pada aktivitas blog, misalnya lupa akan accound yang anda buat.
Masuk pada web blog
Langkah selanjut yang harus anda lakukan untuk memiliki blog adalah dengan melakukan akses ke salah satu web yang menyediakan fasilitas blog, ini dapat anda lakukan pada www.blogspot.com, www.wordpress.com, kedua web ini menyediakan fasilitas blog yang anda inginkan, anda akan dituntun untuk mengisi formulir yang mereka sediakan, untuk lebih jelasnya anda bisa mencoba pada salah satu alamat web diatas. Setelah pengisian formulir selesai, anda akan dibawa secara otomatis pada disain blog yang anda inginkan, tergantung dari konten yang anda inginkan, kemudian mempostingkannya.
Dari beberapa ketentuan diatas, penulis berharap blog yang anda miliki dapat menjadikannya sebagai media publikasi yang membangun untuk negeri ini dan khususnya Jambi, dengan blog tersebut setiap kita memiliki peluang untuk memasarkan potensi daerah ini secara global ke investor dalam dan luar negeri, yang nantinya dilanjutkan dengan bertransaski, jangan jadikan blog yang anda miliki untuk mempublikasi hal-hal yang bersifat pornografi, dll yang bersifat adu domba. Kemudahan teknologi Informasi yang disediakan bukan untuk mengujudkan hal-hal yang kurang baik, negara ini membutuhkan pemikiran dan ide agar bisa keluar dari keterpurukan multidemensi krisis yang dialami.
Dengan adanya blog pribadi ini membawa keuntungan dan kerugian tersendiri dalam penyebar luasan informasi kehadapan user dunia maya, antara lain :
Keuntungan Blogs:
1. Situs web, termasuk blog, dalam ilmu marketing memang dapat digolongkan sebagai salah satu piranti untuk aktivitas public relations (PR) yang cukup ampuh dan jitu. Situs web terbukti dapat meningkatkan visibilitas dan public exposure apa yang ditampilkan/dipasarkan oleh situs tersebut
2. Blog memiliki kebalikan struktur dari media konvensional yang bersifat top-down, membosankan dan arogan
3. Blog adalah contoh tepat evolusi komunitas eleltronik dan kemampuan orang yang secara online membuat media yang mereka kostumisasi sendiri
4. Blog bukanlah obat mujarab untuk budaya yang telah jenuh dengan media, tapi mudah-mudahan Blog adalah salah satu peredanya
Kerugian blog :
1. return on investment (ROI) untuk blog masih sangat sulit untuk dikuantifikasi. Kalau digunakan hitung-hitungan ekonomis, membuat situs web/blog bisa dipastikan rugi dan tidak feasibel
2. Aktivitas blogging memiliki opportunity cost yang relatif tinggi. Daripada menyibukkan diri dengan blog, melakukan aktivitas lain seperti bekerja, belajar, atau bersosialisasi dengan lingkungan, jelas memberikan keuntungan oportunitas yang lebih baik. Dengan mengorbankan diri untuk melakukan blogging, Anda akan “membayar” kerugian atas keuntungan yang sedianya bisa Anda peroleh jika Anda melakukan aktivitas lain yang jauh lebih produktif.
3. Bersiaplah untuk menghadapi pertanyaan tidak terduga dan terkesan kurang wajar.
4. Competitive Advantage. Kalau blog Anda tidak memiliki sesuatu yang bernilai bagi pengunjung, atau tidak memiliki keunikan spesifik yang membedakan dari pemilik blog yang lain, lebih baik Anda menyerah.
Untuk tetap memberikan sumbangsih pemikiran terhadap negeri ini, hendaknya janganlah kerugian yang akan dialami sebagai pemiliki blok dijadikan alasan mengkendorkan semangat kita memberikan wacana dan pemikiran sebagai ujud partisipasi dalam membangun negeri ini, sehingga cepat keluar dari krisis multidemensi yang sedang mengerogoti bangsa ini.
19 Juni 2008
STATISTIK IMAMKU
Oleh : Riswan Janawir
Tujuh hari dalam seminggu kehidupan ini kita jalani
29, 30 atau 31 hari dalam sebulan, 360 hari dalam setahun
Hari, bulan dan tahun terus berlalu, kehidupan terus berjalan
Hari-ini imanku naik, besok turun, dan lusa naik kembali
keimanan yang selalu berplutuatif
Mengapa tidak bisa stabil dengan baik, atau meningkat
Ya Allah faktor apa gerangan yang mempengaruhi kestabilan iman ini
Apakah kesombongan dan kecongkakan dalam diri ini belum pudar
Atau apakah riski yang hamba terima tidak halal.
Mungkin keakrapan dengan tetangga yang terabaikan
Atau mungkin sanak saudara yang tidak diperdulikan
Ya Allah korelasikanlah aktivitas hamba dengan keimanan hamba yang positif.
Seperti doa duha yang Engkau peruntukan kepada hamba-hambamu
Jika riskiku masih dalam bumi keluarkanlah
Jika riskiku dilangit turunkanlah
Jika riskiku jauh dekatkanlah
Jika riskiku haram halalkanlah
Ya Allah, Jangan Engkau jadi korelasi yang negatif.
Dan jangan Engkau jadikan keimanan ini kedalam golongan yang celaka
berikanlah petunjukmu selalu kepada hambamu ini.
Oleh : Riswan Janawir
Tujuh hari dalam seminggu kehidupan ini kita jalani
29, 30 atau 31 hari dalam sebulan, 360 hari dalam setahun
Hari, bulan dan tahun terus berlalu, kehidupan terus berjalan
Hari-ini imanku naik, besok turun, dan lusa naik kembali
keimanan yang selalu berplutuatif
Mengapa tidak bisa stabil dengan baik, atau meningkat
Ya Allah faktor apa gerangan yang mempengaruhi kestabilan iman ini
Apakah kesombongan dan kecongkakan dalam diri ini belum pudar
Atau apakah riski yang hamba terima tidak halal.
Mungkin keakrapan dengan tetangga yang terabaikan
Atau mungkin sanak saudara yang tidak diperdulikan
Ya Allah korelasikanlah aktivitas hamba dengan keimanan hamba yang positif.
Seperti doa duha yang Engkau peruntukan kepada hamba-hambamu
Jika riskiku masih dalam bumi keluarkanlah
Jika riskiku dilangit turunkanlah
Jika riskiku jauh dekatkanlah
Jika riskiku haram halalkanlah
Ya Allah, Jangan Engkau jadi korelasi yang negatif.
Dan jangan Engkau jadikan keimanan ini kedalam golongan yang celaka
berikanlah petunjukmu selalu kepada hambamu ini.
10 Juni 2008
Ananda


Ini adalah Fhoto anak saya, pertama perempuan usianya 8 tahun dan yang nomor dua, laki-laki, usianya tujuh (7) tahun, keduanya
Aza Raissa Riswan
lahir di Jambi, tempat pada tanggal 4 Juni 2000 dan 29 Juni 2001, bersekolah di SD 47 Telanaipura Jambi, kelas Dua (2) dan kelas Satu (1). Olah raga kesukaan mereka bulu tangkis
Kolbi Ghosa Riswan
Langganan:
Postingan (Atom)
RSS Feed
Twitter